Catatan digital

Catatan digital

Sabtu, 05 April 2025

Pentingnya empati dalam kehidupan sosial

Pentingnya Empati dalam Kehidupan Sosial

Kalau kita bicara tentang hidup bermasyarakat, satu hal yang sering kali jadi kunci keharmonisan adalah empati. Kata ini mungkin sering kita dengar, bahkan mungkin jadi salah satu topik dalam pelajaran sekolah atau seminar pengembangan diri. Tapi, seberapa dalam sih sebenarnya kita memahami dan mengamalkan empati itu sendiri? Apakah empati cuma sebatas merasa kasihan kepada orang lain? Atau ada sesuatu yang lebih besar dan penting dari itu?

Mari kita mulai dari hal yang paling dasar. Empati, secara sederhana, bisa diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bukan cuma tahu bahwa orang lain sedang sedih atau bahagia, tapi benar-benar ikut merasakan, seolah-olah kita berada di posisi mereka. Ini bukan berarti kita harus sepenuhnya mengalami hal yang sama, tapi setidaknya kita mampu membuka hati dan pikiran kita untuk memahami situasi dari sudut pandang orang lain. Nah, kemampuan ini ternyata punya dampak besar dalam kehidupan sosial kita sehari-hari.

Bayangkan aja kalau dunia ini penuh dengan orang-orang yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri, nggak peduli dengan perasaan dan kebutuhan orang lain. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing, saling menyalahkan, saling menjatuhkan, bahkan mungkin saling menyakiti tanpa merasa bersalah. Bisa dipastikan, hidup akan terasa sangat tidak nyaman. Dalam konteks ini, empati menjadi seperti pelumas yang membuat roda kehidupan sosial berjalan dengan mulus. Empati bikin kita lebih peka, lebih sabar, dan lebih menghargai keberadaan orang lain.

Coba kita lihat dari lingkup yang lebih kecil dulu: keluarga. Di dalam keluarga, empati bisa menjadi pondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Ketika seorang anak remaja sedang mengalami masa sulit dan orangtuanya mampu menunjukkan empati—bukan cuma menyuruh, memarahi, atau menghakimi—anak tersebut akan merasa dimengerti. Ia merasa diterima, dan itu bisa jadi penyemangat besar dalam menghadapi masalahnya. Sebaliknya, kalau orangtua nggak punya empati, hubungan bisa jadi renggang, dan anak akan mencari pelarian ke tempat lain yang mungkin justru negatif.

Hal yang sama juga berlaku dalam pertemanan. Siapa sih yang nggak senang punya teman yang bisa mengerti perasaan kita? Teman yang bisa jadi tempat curhat, yang nggak asal menilai, tapi benar-benar mendengarkan dan mencoba memahami. Kadang, kita nggak butuh solusi, cukup didengarkan aja udah lega. Nah, teman seperti ini biasanya punya empati tinggi. Mereka sadar bahwa setiap orang punya luka dan cerita masing-masing. Dan justru karena empati itulah, mereka bisa jadi sosok yang menyenangkan dan dirindukan.

Di lingkungan kerja juga sama. Banyak konflik di tempat kerja muncul bukan karena masalah besar, tapi karena kurangnya empati antar rekan kerja. Misalnya, seseorang datang terlambat karena ada urusan keluarga mendadak. Kalau atasan atau rekan kerja bisa menunjukkan empati, mereka mungkin akan memberikan pengertian, bukan langsung marah atau menuduh tidak profesional. Dengan empati, kita bisa menumbuhkan budaya kerja yang lebih sehat, lebih manusiawi. Kita sadar bahwa di balik setiap karyawan, ada manusia yang punya kehidupan pribadi dan masalah masing-masing.

Empati juga punya peran besar dalam menciptakan keadilan sosial. Ketika kita mampu berempati pada kelompok yang tertindas, kita jadi lebih termotivasi untuk melakukan perubahan. Misalnya, saat kita bisa merasakan bagaimana sulitnya hidup masyarakat miskin yang kesulitan mengakses pendidikan atau layanan kesehatan, kita bisa terdorong untuk melakukan aksi nyata—entah itu dalam bentuk donasi, advokasi, atau bahkan hanya dengan memperlakukan mereka dengan hormat dan tidak merendahkan. Empati mendorong kita untuk tidak bersikap apatis terhadap ketidakadilan di sekitar kita.

Nggak cuma dalam konteks individu atau kelompok kecil, empati juga penting dalam skala yang lebih besar: hubungan antarbangsa dan perdamaian dunia. Di dunia yang penuh dengan perbedaan—entah itu perbedaan suku, agama, budaya, atau pandangan politik—empati menjadi jembatan yang bisa menghubungkan kita. Ketika kita bisa memahami alasan di balik suatu tindakan atau pandangan orang lain, kita jadi tidak mudah menghakimi atau membenci. Kita belajar untuk menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar dan justru memperkaya.

Masalahnya, membangun empati itu nggak selalu mudah. Di zaman sekarang, di mana orang lebih sering sibuk dengan gadget daripada ngobrol langsung, empati bisa terasa langka. Kita seringkali lebih cepat menilai daripada mendengarkan. Media sosial pun seringkali jadi ladang komentar negatif karena orang merasa bisa berkata apa saja tanpa memikirkan perasaan orang lain. Padahal, komentar yang kita anggap sepele bisa saja sangat menyakitkan bagi orang yang membacanya. Makanya, penting banget untuk mulai membiasakan diri berpikir dua kali sebelum bicara atau menulis sesuatu.

Empati juga butuh latihan. Kita nggak bisa tiba-tiba jadi orang yang super pengertian dalam semalam. Tapi kita bisa mulai dengan hal-hal kecil, seperti belajar menjadi pendengar yang baik, mencoba memahami alasan di balik perilaku orang lain, atau sekadar bertanya “apa yang bisa aku bantu?” ketika melihat orang lain sedang kesulitan. Kadang, empati dimulai dari niat sederhana untuk tidak menambah beban orang lain.

Menariknya, empati bukan cuma baik untuk orang lain, tapi juga baik untuk diri kita sendiri. Ketika kita berempati, kita sebenarnya sedang memperkuat hubungan sosial yang bisa menjadi sumber dukungan emosional. Orang yang punya empati biasanya juga lebih bahagia, lebih puas dengan hidupnya, dan lebih tahan terhadap stres. Mereka punya “jaringan sosial” yang sehat dan kuat, karena mereka mampu menjaga hubungan dengan baik.

Lebih dari itu, empati juga bisa jadi alat refleksi diri. Ketika kita mencoba memahami orang lain, kita juga bisa lebih memahami diri sendiri. Kita jadi sadar bahwa setiap orang punya perjuangannya masing-masing, dan kita bukan satu-satunya yang punya masalah. Ini bisa menumbuhkan rasa syukur dan memperluas perspektif kita dalam melihat hidup.

Nah, dalam dunia pendidikan, empati juga sangat penting untuk ditanamkan sejak dini. Anak-anak perlu dibiasakan untuk peduli dengan temannya, memahami perasaan orang lain, dan menghargai perbedaan. Guru dan orang tua punya peran besar dalam membentuk karakter ini. Sekolah yang ramah anak dan penuh empati akan menjadi tempat yang menyenangkan dan aman untuk belajar, bukan tempat yang menakutkan. Ketika empati menjadi budaya, bullying pun bisa diminimalkan.

Pada akhirnya, empati adalah tentang menjadi manusia yang lebih baik. Bukan karena kita ingin dipuji atau dilihat sebagai orang baik, tapi karena kita sadar bahwa hidup ini saling terkait. Apa yang kita lakukan pada orang lain, akan kembali pada kita, cepat atau lambat. Ketika kita menebar empati, kita sedang membangun dunia yang lebih hangat, lebih damai, dan lebih manusiawi.

Jadi, yuk, mulai dari diri sendiri. Kita bisa mulai dari hal kecil: menyapa orang dengan tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, membantu tanpa pamrih, dan belajar untuk tidak cepat menyimpulkan sesuatu tanpa tahu cerita di baliknya. Dunia sudah cukup keras, jangan sampai kita menambah kekerasan itu dengan sikap cuek dan dingin. Mari kita jadi pribadi yang punya hati, yang bisa memahami dan menguatkan satu sama lain. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup ini berarti bukan seberapa banyak kita punya, tapi seberapa banyak kita peduli.

Selasa, 18 Maret 2025

MATERI PERTEMUAN 7: GANGGUAN BAHASA DAN INTERVENSI

 

1. ANAK-ANAK DAN KELAINAN BAHASA

A. Pengertian Kelainan Bahasa pada Anak

Kelainan bahasa adalah gangguan dalam pemahaman atau produksi bahasa yang dapat memengaruhi komunikasi anak secara signifikan. Gangguan ini dapat bersifat bawaan atau didapat karena faktor eksternal.

B. Jenis-Jenis Kelainan Bahasa pada Anak

  1. Gangguan Bahasa Ekspresif – Kesulitan dalam mengekspresikan pikiran melalui kata-kata.
  2. Gangguan Bahasa Reseptif – Kesulitan dalam memahami bahasa yang didengar atau dibaca.
  3. Disleksia – Kesulitan membaca dan memahami teks tertulis.
  4. Dispraksia Verbal – Gangguan dalam koordinasi otot yang memengaruhi produksi suara.
  5. Afasia Anak – Kehilangan kemampuan berbahasa akibat cedera otak atau gangguan neurologis.

 

2. PENYEBAB TERJADINYA KELAINAN BAHASA

A. Faktor Biologis

  1. Kelainan Neurologis – Kerusakan atau disfungsi otak yang memengaruhi bahasa.
  2. Genetika – Riwayat keluarga dengan gangguan bahasa dapat meningkatkan risiko.
  3. Gangguan Pendengaran – Kesulitan mendengar dapat menghambat pemerolehan bahasa.

B. Faktor Lingkungan

  1. Kurangnya Stimulasi Bahasa – Minimnya interaksi verbal dapat memperlambat perkembangan bahasa.
  2. Pola Asuh yang Tidak Mendukung – Kurangnya komunikasi efektif dalam keluarga.
  3. Paparan Bahasa yang Tidak Konsisten – Anak yang sering berpindah bahasa tanpa bimbingan dapat mengalami keterlambatan bahasa.

C. Faktor Psikologis

  1. Gangguan Emosional – Stres dan trauma dapat memengaruhi kemampuan berkomunikasi.
  2. Kurangnya Kepercayaan Diri – Anak dengan kecemasan sosial cenderung enggan berbicara.

 

3. PEMBELAJARAN BAGI ANAK DENGAN KELAINAN BAHASA

A. Prinsip Dasar Pembelajaran untuk Anak dengan Gangguan Bahasa

  1. Pendekatan Individual – Menyesuaikan strategi pengajaran dengan kebutuhan spesifik anak.
  2. Stimulasi Berulang dan Konsisten – Menggunakan pengulangan untuk memperkuat pemahaman bahasa.
  3. Pendekatan Multisensori – Menggunakan kombinasi visual, auditori, dan kinestetik dalam pembelajaran.

B. Metode Intervensi dalam Pembelajaran

  1. Terapi Wicara dan Bahasa – Bimbingan langsung oleh terapis untuk meningkatkan kemampuan berbicara.
  2. Pendekatan Total Communication – Menggunakan isyarat, gambar, dan tulisan sebagai alat bantu komunikasi.
  3. Model Pembelajaran Berbasis Bermain – Menggunakan permainan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi anak.
  4. Teknik Pemodelan Bahasa – Orang tua dan guru memberikan contoh bahasa yang benar secara terus-menerus.

C. Peran Guru dan Orang Tua

  1. Guru – Menyesuaikan metode pengajaran dan memberikan dukungan emosional.
  2. Orang Tua – Meningkatkan stimulasi bahasa di rumah dan membangun kepercayaan diri anak.
  3. Kolaborasi dengan Ahli – Bekerja sama dengan terapis bahasa dan psikolog anak untuk intervensi yang lebih efektif.

 

Kesimpulan

Pada pertemuan ini, mahasiswa memahami jenis-jenis gangguan bahasa pada anak, penyebabnya, serta strategi intervensi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Pemahaman ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi anak dengan kebutuhan khusus.

Tugas:

  • Bacalah artikel tentang "Intervensi Dini dalam Gangguan Bahasa pada Anak."
  • Tuliskan ringkasan (1 halaman) mengenai metode yang efektif dalam membantu anak dengan gangguan bahasa.

 

Selamat belajar dan tetap semangat!

1.     Nasir, Aco. (2022). Psikolinguistik. CV. Karya Bakti Makmur Indonesia.

2.     Nasir, Aco. (2024). Psikolinguistik (Memahami Dasar Psikolinguistik). CV. Cemerlang Publishing.

3.     Nasir, Aco. (2024). Linguistik Terapan. CV. Cemerlang Publishing.

Chaer, Abdul. (2002). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Senin, 17 Maret 2025

MATERI PERTEMUAN 6: PSIKOLINGUISTIK DAN PEMBELAJARAN BAHASA

 

1. SUMBANGAN PSIKOLINGUISTIK PADA METODE PEMBELAJARAN

A. Peran Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa

Psikolinguistik membantu memahami bagaimana bahasa diproses, diperoleh, dan digunakan dalam konteks pembelajaran. Studi psikolinguistik memberikan wawasan tentang cara meningkatkan efektivitas metode pengajaran bahasa.

B. Teori Psikolinguistik dalam Metode Pembelajaran

  1. Teori Behaviorisme (Skinner) – Mengajarkan bahasa melalui pengulangan dan penguatan.
  2. Teori Nativisme (Chomsky) – Menekankan bahwa manusia memiliki kapasitas bawaan untuk belajar bahasa.
  3. Teori Interaksionisme (Vygotsky, Bruner) – Menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pemerolehan bahasa.

C. Implementasi Psikolinguistik dalam Pembelajaran

  1. Menggunakan pendekatan berbasis komunikasi untuk meningkatkan keterampilan berbicara.
  2. Memanfaatkan teknologi dan media untuk mendukung pemerolehan bahasa.
  3. Menerapkan strategi belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan bahasa siswa.

 

2. MANFAAT PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

A. Meningkatkan Pemahaman tentang Proses Belajar Bahasa

  1. Memahami bagaimana siswa memproses dan mengingat kosakata serta tata bahasa.
  2. Mengembangkan teknik yang sesuai dengan cara berpikir dan belajar siswa.

B. Mengatasi Kesulitan dalam Pembelajaran Bahasa

  1. Menganalisis penyebab kesalahan dalam pembelajaran bahasa.
  2. Memberikan metode remedial berdasarkan prinsip psikolinguistik.
  3. Menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan individu siswa.

C. Mendukung Penggunaan Bahasa yang Efektif

  1. Memahami hubungan antara bahasa dan berpikir dalam komunikasi.
  2. Mengembangkan strategi untuk meningkatkan keterampilan berbicara, membaca, menulis, dan mendengar.
  3. Membantu dalam pengajaran bahasa kedua dengan pendekatan berbasis psikolinguistik.

 

3. PENGAJARAN BAHASA BERDASARKAN PRINSIP PSIKOLINGUISTIK

A. Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa

  1. Pendekatan Komunikatif – Berfokus pada penggunaan bahasa dalam konteks nyata.
  2. Pendekatan Konstruktivis – Mengajak siswa membangun pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar.
  3. Pendekatan Natural – Menekankan pemerolehan bahasa secara alami seperti bahasa ibu.

B. Strategi Efektif dalam Pengajaran Bahasa

  1. Menggunakan teknik scaffolding untuk mendukung perkembangan bahasa siswa.
  2. Memberikan umpan balik yang tepat agar siswa dapat meningkatkan keterampilan bahasa mereka.
  3. Menggunakan permainan dan simulasi untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar bahasa.

 

Kesimpulan

Pada pertemuan ini, mahasiswa memahami bagaimana psikolinguistik berkontribusi dalam pembelajaran bahasa, manfaatnya dalam memahami proses belajar, serta penerapannya dalam metode pengajaran bahasa yang efektif.

Tugas:

  • Bacalah artikel tentang "Peran Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa Kedua."
  • Tuliskan ringkasan (1 halaman) mengenai bagaimana prinsip psikolinguistik dapat diterapkan dalam kelas bahasa.

 

Selamat belajar dan tetap semangat!

1.     Nasir, Aco. (2022). Psikolinguistik. CV. Karya Bakti Makmur Indonesia.

2.     Nasir, Aco. (2024). Psikolinguistik (Memahami Dasar Psikolinguistik). CV. Cemerlang Publishing.

3.     Nasir, Aco. (2024). Linguistik Terapan. CV. Cemerlang Publishing.

Chaer, Abdul. (2002). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Minggu, 16 Maret 2025

MATERI PERTEMUAN 5: KEMAMPUAN BAHASA KEDUA

 

 

1. STRATEGI KEMAMPUAN BAHASA DUA (B2)

A. Pengertian Bahasa Kedua (B2)

Bahasa kedua (B2) adalah bahasa yang dipelajari setelah bahasa pertama (B1) dan biasanya digunakan dalam konteks sosial atau akademik. Pemerolehan B2 dapat terjadi secara alami atau melalui pembelajaran formal.

B. Strategi Pemerolehan Bahasa Kedua

Beberapa strategi yang digunakan dalam pemerolehan B2 antara lain:

  1. Strategi Kognitif – Menganalisis, menghafal, dan menerapkan pola bahasa baru.
  2. Strategi Metakognitif – Merencanakan, memantau, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa.
  3. Strategi Sosial – Berinteraksi dengan penutur asli untuk meningkatkan keterampilan berbahasa.
  4. Strategi Afektif – Mengelola emosi dan motivasi dalam belajar bahasa.

C. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan B2

  1. Usia – Anak-anak lebih mudah menguasai fonologi, tetapi orang dewasa lebih cepat memahami tata bahasa.
  2. Motivasi – Motivasi tinggi meningkatkan keberhasilan dalam pemerolehan bahasa kedua.
  3. Lingkungan – Paparan terhadap bahasa target berperan penting.
  4. Kemampuan Kognitif – Individu dengan kecerdasan linguistik tinggi lebih mudah mempelajari bahasa kedua.

 

2. PERANAN BAHASA B1 DAN B2 DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

A. Hubungan Antara B1 dan B2

  1. Transfer Positif – Kemampuan dalam B1 dapat membantu dalam mempelajari B2 jika ada kesamaan struktur bahasa.
  2. Transfer Negatif – Perbedaan antara B1 dan B2 dapat menyebabkan kesalahan dalam pembelajaran.
  3. Interferensi Bahasa – Kebiasaan berbahasa B1 dapat memengaruhi produksi B2.

B. Strategi Pembelajaran yang Efektif

  1. Pendekatan Komunikatif – Menggunakan B2 dalam konteks nyata untuk meningkatkan keterampilan.
  2. Pendekatan Berbasis Konten – Mengajarkan B2 melalui materi akademik yang menarik.
  3. Latihan Mendengar dan Berbicara – Meningkatkan keterampilan lisan dengan mendengarkan dan berinteraksi.
  4. Pendekatan Kontrastif – Membandingkan B1 dan B2 untuk memahami perbedaan struktural.

 

Kesimpulan

Pada pertemuan ini, mahasiswa memahami strategi pemerolehan bahasa kedua serta peran bahasa pertama dalam pembelajaran bahasa baru. Faktor usia, motivasi, dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran B2.

Tugas:

  • Bacalah artikel tentang "Interferensi Bahasa dalam Pembelajaran B2."
  • Tuliskan ringkasan (1 halaman) mengenai bagaimana B1 dapat memengaruhi proses belajar B2.

 

Selamat belajar dan tetap semangat!

1.     Nasir, Aco. (2022). Psikolinguistik. CV. Karya Bakti Makmur Indonesia.

2.     Nasir, Aco. (2024). Psikolinguistik (Memahami Dasar Psikolinguistik). CV. Cemerlang Publishing.

3.     Nasir, Aco. (2024). Linguistik Terapan. CV. Cemerlang Publishing.

Chaer, Abdul. (2002). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Sabtu, 15 Maret 2025

MATERI PERTEMUAN 4: PEMEROLEHAN BAHASA

  

1. HUBUNGAN BAHASA DAN BERPIKIR

A. Teori Hubungan Bahasa dan Berpikir

Bahasa dan berpikir memiliki hubungan yang erat dalam perkembangan kognitif manusia. Ada beberapa teori utama yang menjelaskan hubungan ini:

  1. Hipotesis Relativitas Linguistik (Sapir-Whorf)
    • Bahasa memengaruhi cara manusia berpikir dan memahami dunia.
    • Contoh: Suku Inuit memiliki banyak kata untuk menggambarkan "salju," yang mencerminkan cara mereka memahami lingkungan.
  2. Teori Kognitif Piaget
    • Berpikir mendahului bahasa; anak-anak mengembangkan konsep sebelum mampu mengungkapkannya dalam bahasa.
    • Contoh: Seorang anak memahami konsep "besar" sebelum bisa mengucapkan kata "besar."
  3. Teori Vygotsky
    • Bahasa dan berpikir berkembang bersamaan melalui interaksi sosial.
    • Konsep Private Speech (bicara untuk diri sendiri) membantu perkembangan kognitif anak.

B. Peran Bahasa dalam Kognisi

  1. Memfasilitasi pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
  2. Membantu penyimpanan dan pengorganisasian informasi dalam memori.
  3. Memungkinkan komunikasi kompleks dan berbasis logika.

 

2. KEMAMPUAN BAHASA PERTAMA

A. Tahapan Pemerolehan Bahasa Pertama

Pemerolehan bahasa pertama (B1) mengikuti tahapan perkembangan berikut:

  1. Tahap Pralinguistik (0-12 bulan)
    • Menghasilkan suara non-verbal seperti tangisan dan celotehan.
    • Mengenali intonasi dan pola suara bahasa ibu.
  2. Tahap Holofrastik (12-18 bulan)
    • Menggunakan satu kata untuk mengekspresikan gagasan keseluruhan (misalnya, "mama" bisa berarti "saya mau mama").
  3. Tahap Dua Kata (18-24 bulan)
    • Mulai menggabungkan dua kata untuk membentuk kalimat sederhana (misalnya, "makan nasi").
  4. Tahap Telegrafik (2-3 tahun)
    • Menggunakan frasa lebih panjang tetapi masih tanpa tata bahasa yang sempurna (misalnya, "mau pergi sekolah").
  5. Tahap Bahasa Dewasa Awal (3 tahun ke atas)
    • Menguasai struktur kalimat dan mulai memahami aturan tata bahasa yang lebih kompleks.

B. Teori Pemerolehan Bahasa Pertama

  1. Teori Nativisme (Chomsky)
    • Bahasa diperoleh secara alami melalui Language Acquisition Device (LAD).
    • Semua anak memiliki kapasitas bawaan untuk belajar bahasa.
  2. Teori Behaviorisme (Skinner)
    • Bahasa diperoleh melalui peniruan, penguatan, dan pembiasaan.
  3. Teori Interaksionisme (Vygotsky, Bruner)
    • Bahasa berkembang melalui interaksi sosial dan lingkungan.

 

3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMEROLEHAN BAHASA

A. Faktor Internal

  1. Kematangan biologis – Struktur otak yang mendukung bahasa.
  2. Kecerdasan kognitif – Anak dengan IQ tinggi cenderung lebih cepat memperoleh bahasa.
  3. Bakat bahasa – Beberapa individu memiliki kemampuan bawaan lebih dalam belajar bahasa.

B. Faktor Eksternal

  1. Lingkungan Sosial
    • Interaksi dengan orang tua, pengasuh, dan teman sebaya.
    • Paparan terhadap berbagai situasi komunikasi.
  2. Input Linguistik
    • Jumlah dan kualitas bahasa yang didengar anak.
    • Penggunaan bahasa yang kaya dan bervariasi mempercepat pemerolehan.
  3. Faktor Budaya
    • Struktur bahasa dan norma komunikasi dalam masyarakat.
    • Pola pengasuhan yang mendukung perkembangan bahasa.
  4. Media dan Teknologi
    • Paparan bahasa melalui televisi, internet, dan media digital.
    • Aplikasi edukatif dapat membantu pemerolehan bahasa, tetapi interaksi langsung tetap lebih penting.

 

Kesimpulan

Pada pertemuan ini, mahasiswa memahami hubungan antara bahasa dan berpikir, proses pemerolehan bahasa pertama, serta berbagai faktor yang memengaruhinya. Pemerolehan bahasa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis tetapi juga oleh lingkungan dan interaksi sosial.

Tugas:

  • Bacalah artikel tentang Language Acquisition Device (LAD) oleh Noam Chomsky.
  • Tuliskan ringkasan singkat (1 halaman) mengenai bagaimana faktor lingkungan berperan dalam pemerolehan bahasa.

 

Selamat belajar dan tetap semangat!

1.     Nasir, Aco. (2022). Psikolinguistik. CV. Karya Bakti Makmur Indonesia.

2.     Nasir, Aco. (2024). Psikolinguistik (Memahami Dasar Psikolinguistik). CV. Cemerlang Publishing.

3.     Nasir, Aco. (2024). Linguistik Terapan. CV. Cemerlang Publishing.

4.     Chaer, Abdul. (2002). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Pentingnya empati dalam kehidupan sosial

Pentingnya Empati dalam Kehidupan Sosial Kalau kita bicara tentang hidup bermasyarakat, satu hal yang sering kali jadi kunci keharmonisan a...